I. Pendahuluan
Sebagaimana umumnya pesantren di tanah jawa yang lahir dari mushola/langgar/surau, Pondok Pesantren Nurul Hikmah Assalafiyah berasal dari mushola wakaf yang diinisiasi oleh KH. Abdul Hamid dalam kunjungan pertamanya pada tahun 60-an di Dusun Ketitang. Kemudian dalam kunjungan KH. Abdul Hamid yang kedua, beliau memprakarsai pembangunan kamar sebagai cikal bakal pondok kedepannya. Baru di awal tahun 80-an mushola tersebut diisi majlis ta’lim oleh KH. Ihsan Noor yang kemudian perlahan satu-persatu ada santri yang bermukim disana yang kemudian terus berkembang hingga saat ini.
Berdirinya Pondok Pesantren Nurul Hikmah Assalafiyah selain merupakan mandat dari KH. Abdul Hamid, juga ditujukan dalam upaya mengemban misi untuk menjaga dan menyemaikan ajaran ahlussunah wal jama’ah yang dibuktikan dengan basis pengajaran diniyyah yang mana dalam segi akidah merujuk kepada faham Asy’ariyyah dan fiqh kepada Syafi’iyyah serta tasawwuf yang bercorak kepada Ghozaliyyah.
Pondok Pesantren Nurul Hikmah Assalafiyah juga melanjutkan warisan pendahulunya dengan melazimkan wirid-wirid mu’tabar yang secara genealogis bersambung dengan Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan yang mana hal tersebut secara kategorisasi bernisbat kepada thoriqoh Alawiyyah yang secara umum memiliki keidentikan dengan thoriqoh para alawiyyin di Hadramaut.
Tidak hanya itu, Pondok Pesantren Nurul Hikmah Assalafiyah juga menanamkam sikap kritis dalam berfikir, religius dalam berprilaku, sederhana dalam gaya hidup, serta ikhlas dalam beramal dan dalam menyebarkan ilmu yang tidak lain hal tersebut merupakan sebagai modal dasar bagi para santri untuk bermasyarakat dan meneruskan perjuangan Baginda Rasulullah SAW kedepannya.
II. Visi dan Misi
Adapun visi Pondok Pesantren Nurul Hikmah Assalafiyah adalah “Mempertahankan Tradisi Salaf Yang Baik Serta Mengambil Tradisi Modern Yang Lebih Baik.”
Berdasarkan visi tersebut, maka misi Pondok Pesantren Nurul Hikmah Assalafiyah adalah:
1. Melakukan usaha maksimal dalam mentransmisikan dasar-dasar keilmuan serta tradisi yang menjadi ahwal dan warisan turun temurun dari para salafuna sholih.
2. Melakukan usaha maksimal dalam upaya kontekstualisasi dan integrasi keilmuan dengan peradaban yang berkembang saat ini sehingga menghasilkan output santri yang mampu menjadi pegangan umat dalam era modern yang terus berkembang ini dengan tetap membawa warisan para salafuna shalih dan mampu melakukan adaptasi terhadap sesuatu yang lebih baik.
III. Sejarah Singkat
Awal berdirinya Yayasan Nurul Hikmah Assalafiyah Ketitang Pajararan Poncokusumo Malang bermula pada tahun 1963 M ketika Al maghfurlah Romo K.H. Abdul Hamid Bin Abdullah Bin Umar Al-Lasimy dari Pasuruan berkunjung ke rumah Abah H. Nurudin (Orang tua K.H Ikhsan Nur) yang bertempat di desa Ketitang Pajaran Poncokusumo Malang. Beliau (Romo K.H. Abdul Hamid) meminta kepada para dermawan setempat untuk dibangunkan
Musholla Waqaf. Dan pada pada tahun 1964 M berdirilah Musholla kecil yang sangat sederhana, berselang beberapa waktu Romo K.H. Abdul Hamid berkunjung untuk kedua kalinya dan beliau meminta kembali agar dibuatkan pondok di selatan Musholla untuk tempat menginap para santri.
Sepeninggal beliau, atas dasar isyarat-isyarat yang telah di berikan sebelumnya akhirnya Musholla waqaf tersebut secara resmi mulai dikembangkan oleh K.H Ikhsan Nur tepatnya pada Hari Ahad 29 April 1984 M/27 Jumadil Akhir 1404 H. Demi mengemban amanah meneruskan perjuangan dakwah guru beliau yakni Romo K.H. Abdul Hamid Bin Abdullah Bin Umar Al- Lasimy. Secara struktural pada awalnya lembaga pendidikan ini meliputi dua lembaga operasional yakni Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyyah Putra-Putri.
IV. Organisasi Kelembagaan
Sejak resmi dijalankan sebagai Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyyah pada tahun 1984, pengelolaan P.P. Nurul Hikmah Assalafiyah dilakukan secara tradisional yang kebijakannya terpusat pada pengasuh. Kemudian seiring berjalannya waktu sistem pengelolaan pondok kemudian dijalankan secara sistemis kolektif-kolegial (musyawarah-mufakat) yang ditandai dengan diresmikannya surat pengesahan pendirian yayasan (terlampir) yang mana dewan atau pengurus yayasan menempati tempat sebagai legislator utama dalam perumusan kebijakan strategis pondok. Dalam Praktiknya, Dewan Yayasan menaungi 3 institusi dibawahnya yaitu: 1) Ma’had putra & Putri, 2) Madrasah Diniyyah Awaliyah, Tsanawiyah dan Aliyah, 3) sekolah formal SDI, SMPI, SMAI.
V. Ma’hadiyah
Ma’hadiyah didesain sedemikian rupa dalam upaya menggembleng santri secara mentalitas dan spiritualitas dengan mengkombinasikan suluk dengan wirid-wirid mu’tabaroh dan berbagai kegiatan-kegiatan yang mendukung yang ditujukan untuk mewariskan mentalitas salafuna-sholih yang telah diwariskan turun-temurun sebelumnya.
Kegiatan Ma’hadiyah dimulai sejak sebelum shubuh yang diawali dengan pembacaan aurod dan diakhiri dengan sorogan setelah isya’. Kegiatan tersebut dilakukan terus menerus sehingga akan menginternalisasi nilai-nilai dan ajaran ke dalam bawah sadar santri untuk menjadi sikap dan karakter ruhani yang melekat dalam diri santri dalam sudut pandang kajian
psikologi sehingga diharapkan dari runtutan aktifitas-aktifitas tersebut santri dapat mewarisi vibrasi spiritualitas para salafuna shalih.
VI. Madrasiyah
Madrasiyah P.P. Nurul Hikmah Assalafiya memegang peranan penting dalam kelangsungan berjalannya pesantren yang mana dalam madrasiyah ini diajarkan berbagai fan keilmuan diniyah yang menjadi bekal santri kedepannya. Penyusunan kurikulum sendiri dilakukan oleh ketua kurikulum dan koordinator madrasiyah yang mana kluster mata kuliah diarahkan pada penguatan dan pengembangan ilmu-ilmu dalam rumpun ilmu ushuluddin yang mana hal ini merupakan warisan keilmuan pokok yang menjadi acuan dasar kokoh atau tidaknya keilmuan seorang ulama.
Dalam tingkatannya, Madrasah Diniyyah PP Nurul Hikmah Assalafiyah memiliki 3 jenjang yaitu: 1) awaliyah, 2) Tsanawiyah, 3) Aliyah. Jenjang awaliyah ditujukan untuk mengenalkan pelajaran dasar seperti tauhid, fikih, akhlak dengan penekanan pada gramatika bahasa Arab khususnya pada ilmu morfologi, fonologi dan sintaksis dalam bahasa Arab. Adapun jenjang Tsanawiyah digunakan sebagai penguatan ilmu-ilmu dasar keagamaan seperti kaidah fiqh, ushul fiqh, mustholah hadits, pendalaman ilmu bahasa (balaghoh, arud), logika (mantik) dan ulumul qur’an. Sedangkan pada jenjang Aliyah fokus pembelajaran ditujukan pada penguatan dan pengembangan dari kluster fan ilmu fiqih, tafsir dan hadits.
VII. Penutup
Demikian gambaran singkat tentang profil PP Nurul Hikmah Assalafiyah. Semoga dengan gambaran singkat ini para stakeholders dapat lebih memahami ihwal pesantren ini bagaimana ia dijalankan dan dikembangkan. Profil ini juga merupakan upaya PP Nurul Hikmah Assalafiyah berkomunikasi dengan publik sehingga komunikasi dua arah diharapkan akan terjadi dengan intens demi kemajuan dan kemaslahatan semua pihak.